Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kisah Mbah Subagio Semarang Tinggal di Gubuk Beratap Kain Spanduk, Tidak Bisa Tidur Saat Hujan


Di usia senja, Kakek Subagio (78) tinggal dengan istrinya Suwarni (59) di gubuk seluas 6 meter x 8 meter yang terbuat dari bambu, kayu, triplek dan seng.

Atap pengganti genting di gubuk setinggi 2 meter itu terbuat dari puluhan kain spanduk bekas yang diperolehnya dari tempat sampah.

Di dalam gubuk tidak ada kamar mandi sehingga Subagio dan istri ketika akan mandi atau buang air harus ke wc umum atau menumpang ke rumah tetangga.

Belum lagi saat hujan deras turun mereka harus rela tidak tidur sebab limpasan air dari jalan depan gubuk akan masuk ke dalamnya.

"Tapi tidak apa-apa gubuk ini sudah sangat nyaman," katanya saat Tribunjateng.com menyambangi gubuknya, Kamis (16/7/2020).

Sebelumnya, Subagyo memiliki rumah permanen yang layak di tempati.
Rumahnya dulu masih berada di Jalan Kelurahan Manyaran Kecamatan Semarang Barat.
Namun rumahnya harus digusur lantaran adanya proyek normalisasi banjir kanal barat.

Terkait waktu penggusuran Subagio mengaku lupa lantaran sudah berlangsung lama dan dia memang melupakan kejadian tragis itu.

Gubuk yang di tempati Mbah Subagio saat ini merupakan di atas tanah irigasi milik pemerintah.
Dia mengaku was-was jika sewaktu-waktu digusur.

"Sudah digusur berkali-kali, namun saya tetap bangun gubuk, kalau tidak saya mau tinggal di mana?," ujar kakek yang hidup hanya bersama istrinya itu.

Kendati hidup dalam keterbatasan, Subagio memiliki prinsip hidup dengan memegang teguh sikap sabar, nerimo dan tetap berusaha.
"Jangan sampai meminta-minta dan merepotkan orang lain, harus mencari uang buat nyambung hidup," terangnya.
Sikap Mbah Subagio itulah yang menggerakan tim relawan Semarang Peduli untuk sedikit memberikan bantuan.
Relawan Semarang Peduli Erik Christian mengaku, sudah menyambangi gubuk mbah Subagio pada bulan ramadan beberapa waktu lalu.
Menurutnya, mbah Subagio memiliki impian kecil yakni ingin menonton televisi.
"Akhirnya kami dan para donatur memujudkan impian kecil mbah Subagio tersebut."
"Semoga hadiah televisi itu menjadi penghibur di tengah kehidupan yang keras," terangnya.
Erik menambahkan, pihaknya juga memberikan sembako sekaligus menggelar buka bersama di gubuk mbah Subagio pada ramadan lalu.

Posting Komentar untuk "Kisah Mbah Subagio Semarang Tinggal di Gubuk Beratap Kain Spanduk, Tidak Bisa Tidur Saat Hujan"